Spiritualisme Kritis atas Tiga Musuh Dunia Postmodern

 

 

770a6-5fcc9c1e-0c76-4f06-92f6-881e3ac044f5

 

 

 

 

Judul: Bilangan Fu

Penulis: Ayu Utami

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun terbit: Cetakan 2, Oktober 2018

Ukuran: x + 562 halaman; 13,5 x 20 cm

ISBN: 978-602-424-397-5

Sinopsis:

Ayu Utami menyebut Bilangan Fu sebagai bentuk spiritualisme kritis atas modernisme, monoteisme, dan militerisme yang berkembang di masyarakat. Gaya bertutur Ayu Utami yang sarat nuansa erotisme, mengingatkan kita pada Djenar Maesa Ayu. Namun dari konsep cerita, Bilangan Fu mungkin dapat disejajarkan dengan Aroma Karsa-nya Dee Lestari. Beberapa kemiripan keduanya antara lain nama salah satu tokoh utamanya, perkenalan karakter yang dibahas bab per bab, latar, maupun mitologi Jawa yang disisipkan ke dalam cerita.

Bilangan Fu berkisah tentang Sandi Yuda, pemuda pemanjat tebing yang  memimpin kelompoknya. Karakter Yuda yang modernis berusaha menghindar dari hiruk-pikuk perkotaan. Ia sangat membenci televisi. Baginya televisi tak lebih dari sekadar kotak yang mencuci otak kebanyakan orang menjadi bodoh. Ia cenderung meremehkan mitos dan takhayul di sekitar lokasi pemanjatan. Di sebuah lubang tebing Watugunung, ketika sedang merenungkan hakikat “berbagi” dan “membagi”, Sebul__sosok makhluk astral bertubuh manusia berkaki dan berkepala serigala__datang padanya membisikkan teka-teki dengan jemarinya menggambar lingkaran serupa obat nyamuk di udara.

Keping puzzle mulai tersusun ketika Yuda mengunjungi Fulan, mantan anggota timnya yang telah berkeluarga dan memiliki toko alat-alat pendakian. Pemandangan itu mengingatkannya pada Marja Manjali, kekasihnya. Selama ini Yuda menjalin hubungan tanpa komitmen dengan Marja. Ia menolak terikat pada pernikahan yang menurutnya merenggut kebebasan seorang lelaki pasca menikah. Di sana pula, ia bertemu Parang Jati, mahasiswa semester akhir Geologi ITB berjari 12, sekaligus penduduk asal Watugunung. Yuda yang percaya diri karena selalu menang taruhan, kini harus mengakui kekalahannya dari Jati. Taruhan kecil dengan harga yang mahal serupa pindah agama. Yuda dan rombongannya harus beralih dari dirty climbing ke clean climbing, bahkan yang paling ekstrem: sacred climbing, yaitu memanjat tebing dengan meminimalkan alat bantu seperti bor dan paku yang dianggap melukai tebing.

Tapi pemanjat sejati harus berdialog dengan tebingnya. Sebab yang ia ingin taklukkan adalah tebing itu sendiri. Pemanjat sejati baru berhasil memanjat jika ia tidak merusak tebingnya. Jika ia merusak tebing, apa bedanya ia dengan begundal? (Halaman 81)

Sikap Yuda yang selalu rasional, menolak segala upacara sajen karena alasan keborosan dikrtitik Jati sebagai modernis fasis. Sementara bagi Yuda, Jati yang tak pernah to the point menyampaikan gagasan diejeknya sebagai bentuk politically correct. Keduanya terlibat cinta segitiga ganjil dengan Marja, juga kisah-kisah komedi gelap yang mengungkap arti bilangan fu dan identitas Jati sesungguhnya.

“Kamu jangan memakai kacamata modern untuk menilai kepercayaan tradisional, dong,” katanya. (Halaman 133)

Lewat Bilangan Fu, Ayu Utami hendak mengkritisi modernisme sebagai faktor utama kerusakan lingkungan. Di masa lalu, orang-orang masih meyakini takhayul, percaya bahwa di setiap tempat ada penunggunya, sehingga mereka tak berani bertindak seenaknya. Seiring pesatnya modernisasi, manusia kini sudah melampaui batas dan melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap alam tanpa memikirkan dampaknya.

Berikutnya, monoteisme. Tokoh Kupukupu alias Farisi yang bertikai dengan Jati menjadi semacam ikon jenis orang yang merasa agamanya paling benar sendiri, mudah menghakimi, mengkafirkan, dan memaksakan kehendak pada orang lain. Kupukupu salah memahami maksud Jati tentang bilangan fu yang metaforis berubah menjadi matematis. Dalam hal ini, ada sangkut-pautnya tentang ke-Esa-an Tuhan.

Terakhir, militerisme. Berlatar di kawasan pegunungan karst Sewugunung, Pantai Selatan di era Orde Baru. Fakta lapangan rezim Soeharto kala itu menerapkan sistem militer. Dualisme peran tentara menimbulkan rasa iri instansi kepolisian sehingga timbul saling curiga satu sama lain. Di masa kejatuhannya, marak terjadi kerusuhan. Dari puncak ketinggian, para pendaki menyaksikan hutan-hutan semakin gundul. Krisis moneter, faktor ekonomi dan lemahnya hukum membuat orang-orang menebangi pohon. Kuat ditengarai justru oknum militerlah yang menjadi aktor intelektual di balik pengrusakan hutan.

Mengangkat tiga topik di atas tentu terasa “berat”, tetapi Ayu Utami menyiasatinya dengan menyelipkan kisah-kisah dari Babad Tanah Jawi, juga pergantian alur dan sudut pandang. Sebagai penulis feminis dan besar dalam keluarga Katolik, Ayu Utami mampu menembus batas gender dan religiusitas, dengan menulis dari sudut pandang pria dan membahas banyak hal tentang Islam, sekaligus menunjukkan kedalaman risetnya. Namun seperti dua sisi berlawanan, banyaknya informasi dan potongan artikel koran membuat narasi melebar sporadis.

*Resensi ini telah dimuat di harian Kabar Madura edisi hari ini, Jumat, 18 Januari 2019

img_20190118_101145

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 respons untuk ‘Spiritualisme Kritis atas Tiga Musuh Dunia Postmodern

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s